Saturday, September 21, 2013

Contoh Proposal PTK Penjas SD Kelas 5 Sepak Bola

Berikut ini Contoh Proposal PTK Penjas SD Kelas 5 tentang Sepak Bola. Berbagai keperluan pembuatan proposal PTK sering dilakukan oleh para guru, di antaranya untuk meningkatkan kualifikasi pendidikannya, PLPG, dan kenaikan pangkat bagi pegawai negeri sipil (PNS). Contoh Proposal ini kami sajikan sebagai bahan referensi, semoga bermanfaat untuk pembaca khususnya dan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya, demi anak bangsa.

Judul Proposal PTK

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN GERAK MENENDANG
SEPAK BOLA MELALUI MODIFIKASI ALAT BANTU
PADA SISWA KELAS V SD

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah


Pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di sekolah dasar sangatlah penting sebagai dasar pendidikan anak ke tingkat yang lebih tinggi. Keberhasilan pendidikan jasmani di sekolah dasar tergantung pada kreatifitas guru dan penerapan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Penerapan pendekatan pembelajaran yang kurang tepat sangat berpengaruh pada hasil pembelajaran.
Kondisi nyata di lapangan menunjukkan bahwa modifikasi alat bantu pembelajaran sangat jarang dilakukan oleh guru ketika melaksanakan pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah pembelajaran pendidikan jasmani cenderung tradisional, model pembelajaran masih berpusat pada guru.
Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar oleh guru hendaknya dilakukan dengan memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, sehingga akan mendukung keberhasilan pembelajaran itu sendiri. Dengan penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat akan berpengaruh pada keaktifan dan ketertarikan siswa terhadap pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.
Siswa SD pada umumnya sangat menyenangi mata pelajaran Penjaskes terutama materi permainan sepak bola, akan tetapi masih ada sebagian siswa yang kurang antusias pada pembelajaran tersebut, terutama siswa perempuan. Siswa perempuan kurang tertarik dengan sepak bola karena takut merasa sakit ketika menendang bola.
Fakta di lapangan menyebutkan bahwa, masih banyak siswa yang salah dalam gerakan menendang bola pada permainan sepak bola. Sebagian siswa masih menggunakan ujung kaki untuk menendang bola, sehingga akan menimbulkan rasa sakit pada kaki, sehingga mereka enggan untuk berlatih gerakan menendang bola, sehingga hasil belajar siswa kurang maksimal.
Hasil belajar siswa SD masih rendah, terbukti, hasil evaluasi menunjukkan bahwa dari 28 siswa yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan, baru 10 siswa (35,7%) yang telah dapat melakukan gerakan menendang sepak bola dengan baik dan benar dan sisanya 18 siswa (74,3%) masih belum menguasai gerakan tersebut dengan baik dan benar. Kondisi demikian apabila dibiarkan akan mempengaruhi pencapaian prestasi belajar siswa. Hal tersebut menunjukkan adanya suatu permasalahan yang harus dicari jalan keluarnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan semacam tindakan yang dilaksanakan secara kolaboratif, yaitu tindakan untuk meningkatkan keterampilan gerak menendang sepak bola pada siswa kelas V SD.
Tindakan tersebut adalah upaya meningkatkan keterampilan gerak menendang sepak bola melalui modifikasi alat bantu pada siswa kelas V SD. Penggunaan modifikasi alat bantu diharapkan dapat meningkatkan keterampilan gerak menendang sepak bola pada siswa.
Alasan penggunaan modifikasi alat bantu tersebut adalah untuk mengatasi rendahnya penguasaan keterampilan gerak menendang sepak bola pada siswa. Dengan modifikasi alat bantu ini siswa akan dengan mudah mengikuti pembelajaran keterampilan gerak menendang sepak bola, karena keaktifan siswa akan dikembangkan sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah meningkatkan keterampilan gerak menendang sepak bola melalui modifikasi alat bantu pada siswa kelas V SD?

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan gerak menendang sepak bola melalui modifikasi alat bantu pada siswa kelas V SD.

D.    Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat hasil Penelitian ini adalah dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Bagi Guru: melalui PTK ini guru dapat menggunakan modifikasi alat bantu, khususnya untuk meningkatkan keterampilan gerak menendang sepak bola.
2.      Bagi Siswa: hasil penelitian ini bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan kreatifitas dan keberanian siswa untuk memberikan umpan balik terhadap pembelajaran keterampilan gerak menendang sepak bola.
3.      Bagi Sekolah: hasil penelitian ini membantu memperbaiki pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah.
  
BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Kajian Teori
1.      Sepak Bola
a.      Pengertian Sepak bola
Rangkaian gerakan permainan sepak bola meliputi gerakan passing, shooting, stoping, dan heading. Passing dengan kaki bagian dalam adalah salah satu gerak yang termasuk ke dalam gerak menendang. Gerak menendang menurut fungsinya terbagi menjadi 4, yaitu memberikan (passing), menembakkan (shooting), menghentikan (stoping), dan menyundul (heading).
Passing adalah salah satu gerak dalam sepak bola yang mudah untuk dilakukan, namun dalam pelaksanaannya gerakan ini harus benar dari gerakan awal hingga akhir, karena akan berpengaruh pada hasil passing tersebut.

b.      Keterampilan Menendang
Sepak bola mengharuskan siswa untuk belajar keterampilan dasar sepak bola. Keterampilan dasar tersebut seperti, keterampilan menendang yang meliputi menendang dengan kaki bagian dalam, menendang dengan punggung kaki, dan mengontrol bola atau menghentikan bola.

c.       Menendang dengan Kaki Bagian Dalam
1)      Sikap Awalan
Diawali dengan sikap berdiri menghadap ke arah gerakan. Pandangan ke arah bola, badan condong ke belakang. Kaki tumpu berada di samping bola berjarak satu kepal dan arah jari ke depan dengan lutut agak tertekuk. Pergelangan kaki yang akan di gunakan menendang diputar keluar. Kaki ayun ditarik ke belakang membentuk sudut 30° ke arah bola.

2)      Sikap Perkenaan
Sikap perkenaan merupakan lanjutan dari sikap awalan, yaitu dengan sikap berdiri menghadap ke arah gerakan. Pandangan lurus ke arah bola. Badan agak condong ke depan. Perkenaan kaki bagian dalam pada permukaan tengah bola. Kaki tumpu dan kaki ayun membentuk sudut 90°. Gerakan lengan berlawanan dengan ayunan kaki.
3)      Sikap Gerakan Akhir
Pandangan ke arah tujuan passing. Badan agak condong ke belakang. Tarik kaki yang akan di gunakan menendang ke belakang lalu ayunkan ke depan ke arah bola. Gerakan lengan berlawanan dengan gerakan kaki ayun.

d.      Menendang dengan Punggung Kaki
Menendang dengan punggung kaki adalah gerakan menendang dengan kura-kura kaki. Kura-kura kaki adalah kaki bagian atas yang tertutup oleh tali sepatu. Permukaan bagian ini keras dan rata sehingga dapat digunakan untuk menendang bola. Operan ini cocok untuk menggerakkan bola dengan jarak 23 meter atau lebih. (Sutrisno, S.Pd. 2009:22).

e.       Mengontrol/Menghentikan Bola
Selain menendang kemampuan mengontrol bola juga sangat penting. Dengan kemampuan tersebut, siswa dapat menguasai boladan mempunyai kesempatan mencetak gol. Untuk itu semua siswa harus bisa mengontrol bola dengan baik. (Sutrisno, S.Pd. 2009:22).

2.      Pengertian Alat Bantu
Yang dimaksud dengan alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh seorang pendidik dalam menyampaikan materi atau bahan pendidikan/pengajaran. Dalam prakteknya alat bantu ini lebih sering disebut sebagai peraga karena berfungsi untuk membantu dan memperagakan sesuatu di dalam proses pendidikan atau pengajaran.
Media menurut Arsyad (2002) adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa suatu bahan atau alat. Media merupakan sarana pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang bertujuan agar siswa mengetahui sesuatu hal.
Dalam pembelajaran, media berperan sebagai alat bantu belajar yang bisa digunakan sendiri oleh siswa atas bimbingan guru. dalam pembelajaran media digunakan untuk menggantikan sebagian dari fungsi guru dalam memberikan atau menyampaikan pelajaran.
Alat bantu pendidikan ini disusun menggunakan patokan atau berdasarkan pada prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap orang diterima atau ditangkap melalui panca indera. Oleh sebab itu, semakin banyak panca indera yang digunakan untuk menerima sesuatu materi yang diajarkan maka semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian/pengetahuan yang diperoleh oleh sasaran pendidikan. Dengan perkataan lain alat bantu ini dimaksudkan untuk mengerahkan indera sebanyak mungkin kepada suatu obyek, sehingga mempermudah persepsi dari siswa. 
Seseorang atau masyarakat atau target sasaran pendidikan di dalam proses pendidikan dapat memperoleh pengalaman atau pengetahuan melalui berbagai macam alat bantu pendidikan. Akan tetapi masing-masing alat mempunyai intensitas yang berbeda-beda di dalam membantu persepsi atau pemahaman seseorang. 
Seorang pakar ilmu pendidikan bernama Edgar Dale membagi alat bantu pendidikan tersebut ke dalam 11 macam, dan sekaligus menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat tersebut di dalam sebuah gambar kerucut yang dinamakan kerucut Edgar Dale. Semakin mengerucut maka akan semakin kecil intensitasnya dalam membantu dan mempermudah persepsi dari masyarakat atau sasaran pendidikan. 11 macam alat pergara pendidikan tersebut yaitu kata-kata, tulisan, rekaman/radio, film, televise, pameran, field trip, demonstrasi, sandiwara, benda tiruan, dan benda asli.


Gambar 1. Kerucut Edgar Dale

Dari gambar kerucut Edgar Dale tersebut di atas yang diambil dari http://e-medis.blogspot.com/2013/03/pengertian-alatbantuperagamedia.html dapat dilihat bahwa lapisan yang paling dasar adalah benda asli dan yang paling atas adalah kata-kata. Hal ini berarti bahwa dalam proses pendidikan, benda asli mempunyai intensitas yang paling tinggi untuk mempersepsi bahan pendidikan/pengajaran. Sedangkan penyampaian materi atau bahan hanya dengan kata-kata saja sangat kurang efektif atau intensitasnya paling rendah. Maka jelaslah bahwa penggunaan alat peraga merupakan implementasi salah satu prinsip proses pendidikan.

B.     Kerangka Berpikir
Keterampilan gerak menendang sepak bola siswa kelas V SD Negeri Candiwulan masih rendah, untuk itu harus segera diadakan perbaikan pembelajaran. Dengan modifikasi alat bantu pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan keterampilan gerak menendang. Secara sederhana kerangka berpikir penelitian ini dapat digambarkan dengan bagan sebagai berikut:


Gambar 2. Bagan Kerangka Berpikir

A.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, diduga melalui modifikasi alat bantu dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan tentang keterampilan gerak menendang sepak bola.
Berdasarkan dugaan tersebut, hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Modifikasi alat bantu dapat meningkatkan hasil keterampilan gerak menendang sepak bola pada siswa kelas V SD. 

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian

1.      Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Candiwulan, Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen.

2.      Waktu penelitian
Pelaksanaan penelitian ini direncanakan dari bulan Maret 2013 sampai dengan selesai.

Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian



A.    Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah kelas V SD. Keseluruhan siswa kelas V SD yang berjumlah 28 siswa yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan.

B.     Data dan Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah sebagai berikut:
1.      Data hasil belajar keterampilan gerak menendang sepak bola, diperoleh dari siswa;
2.      Data aktivitas guru, diperoleh dari peristiwa selama KBM berlangsung;
3.      Data keaktivan siswa, diperoleh dari peristiwa selama KBM berlangsung;
4.      Data pelaksanaan KBM melalui modifikasi alat bantu, diperoleh dari peristiwa selama KBM berlangsung.

C.    Pengumpulan Data
Data  yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas ini berupa catatan hasil pengamatan. Hasil pengamatan tersebut dikumpulkan melalui pengamatan, hasil tes siswa dan angket. Pemberian dan pengisian angket oleh siswa dilaksanakan pada pertemuan ke dua (siklus terakhir), setelah tindakan selesai.

D.    Uji Validitas Data
Data yang sudah terkumpul merupakan modal awal yang sangat berharga dalam penelitian ini, dari data yang terkumpul akan dilakukan analisis yang selanjutnya dipakai sebagai bahan masukan untuk penarikan kesimpulan. Melihat begitu besarnya posisi data, maka keabsahan data yang terkumpul menjadi sangat vital.
Keabsahan data itu dikenal sebagai validitas data, sebagaimana dijelaskan Alwasilah (2008: 170) bahwa tantangan bagi segala jenis penelitian pada akhirnya adalah terwujudnya produksi ilmu pengetahuan yang valid, sahih, benar, dan beretika.
Validitas data penelitian tindakan kelas ini diuji dengan menggunakan triangulasi, yaitu:
  1. Hasil belajar keterampilan gerak menendang sepak bola dianalisis dengan menggunakan triangulasi, yaitu dengan data yang diperoleh dari peneliti, observer, dan siswa.
  2. Keaktifan siswa dianalisis dengan menggunakan data yang diperoleh dari peneliti, observer, dan siswa.
  3. Aktifitas guru dianalisis dengan menggunakan data yang diperoleh dari peneliti, observer, dan siswa.
  4. Penggunaan modifikasi alat bantu dianalisis dengan menggunakan data yang diperoleh dari peneliti, observer, dan siswa.
  5. Nilai hasil belajar keterampilan gerak menendang sepak bola sebelum tindakan divalidasi dengan triangulasi peneliti.
  6. RPP, silabus, kurikulum divalidasi dengan triangulasi dokumen.
  7. Emosi siswa divalidasi dengan triangulasi kartu ceria. 
E.     Analisis Data
Data yang dianalisis meliputi data kuantitatif (dengan menampilkan angka-angka sebagai ukuran prestasi), dan data kualitatif (dengan menampilkan angka sebagai perbandingan). Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif yang bertujuan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran. Tahapan dalam tindakan menganalisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

1.        Reduksi Data
Reduksi data dilakukan dalam rangka pemilihan dan penyederhanaan data. Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini adalah seleksi data dan pembuangan data yang tidak relevan. Data-data yang relevan dengan penelitian akan diorganisasikan sehingga terbentuk sekumpulan data yang dapat memberi informasi faktual.
2.        Penyajian data
Sebelum dilakukan penyajian data sebelumnya data dianalisis sebagai berikut:
a.       Hasil belajar keterampilan gerak menendang sepak bola dianalisis dengan menghitung prestasi pencapaian siklus I dan II.
b.      Keaktifan siswa dianalisis kelemahan dan kelebihan siswa ketika pembelajaran berlangsung.
c.       Aktivitas guru dianalisis kelemahan dan kelebihan guru ketika pembelajaran berlangsung.
d.      Penggunaan modifikasi alat bantu dianalisis kelemahan dan kelebihan siswa ketika pembelajaran berlangsung.
e.       Nilai hasil belajar keterampilan gerak menendang sepak bola sebelum tindakan dianalisis dengan cara membandingkan nilai yang dicapai dengan KKM.
f.       RPP dianalisis dengan analisis isi untuk melihat kesesuaian kompetensi dasar RPP dengan silabus dan kurikulum serta langkah-langkah pembelajarannya.
Penyajian data dilakukan dalam bentuk sekumpulan informasi, baik berupa tabel, bagan, maupun deskriptif naratif, sehingga data yang tersaji relatif jelas dan informatif. Tindakan lanjutan, penyajian data digunakan dalam kerangka menarik kesimpulan dari akhir sebuah tindakan.

3.        Penarikan kesimpulan
Kegiatan penarikan kesimpulan merupakan kegiatan tahap akhir dari proses analisis data. Penarikan kesimpulan disusun dengan mempertimbangkan secara evaluatif berdasarkan kegiatan-kegiatan yang ditempuh dalam dua tahap sebelumnya. 

F.     Indikator Kinerja Penelitian
Indikator keberhasilan tindakan dalam penelitian ini adalah meningkatnya hasil pembelajaran keterampilan gerak menendang sepak bola yang dapat dilihat pada perolehan nilai siswa kelas V secara individual yang didasarkan pada Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75 dan didukung dengan perolehan nilai ketuntasan secara klasikal yaitu 75%.

G.    Prosedur Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus, langkah-langkah dalam siklus penelitian tindakan kelas ini terdiri dari bawah empat komponen, yaitu: 1) rencana,  2) tindakan, 3) observasi,  4) refleksi. Untuk lebih jelas lihat gambar dibawah ini:


Gambar 3. Daur Penelitian Tindakan Kelas

DAFTAR PUSTAKA

Agus Kristiyanto.2010. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Dalam Pendidikan Jasmani & Kepelatihan Olahraga. Surakarta: UNS Press.

Alwasilah Chaedar. (2008). Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Pustaka Jaya

Arma Abdoellah. (1981). Olahraga Untuk Perguruan Tinggi.  Yogyakarta: Sastra Hudaya.

Arsyad. (2002). Media dan Alat Bantu Pembelajaran. Jakarta: CV Mandiri

Badudu Zain. (1992). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Dadang Heryana, Giri Verianti. (2010). Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk Siswa SD-MI Kelas V. Jakarta: Aneka Ilmu.

Depdiknas. (2007). Naskah Akademik Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: BPP Pusat Kurikulum.

Hamalik, Oemar. (2004). Media Pendidikan. Bandung: PT Aditya Bakti

http://e-medis.blogspot.com/2013/03/pengertian-alat-bantuperagamedia.html

http://jurnal-teknologi-pendidikan.tp.ac.id/meyakinkan-validitas-data-melalui-triangulasi-pada-penelitian-kualitatif.pdf

http://library.binus.ac.id/

Kosasih Engkos, Olahraga Gerak dan Program Latihan dan Akademik, Jakarta: Persindo.

Purwanto, M. Ngalim, MP. (1997). Psikologis Pendidikan. Bandung: PT Rosda Karya.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1995). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka.

Sutrisno, S.Pd. (2009). Mempersiapkan Pemain Sepak Bola Berprestasi (1). Jakarta: PT Musi Perkasa Utama.

Syarifuddin Aip, Pengetahuan Olahraga, (1991). Jakarta: CV Baru

Tim Bina Kerja Guru. (2004). Pendidikan Jasmani untuk Sekolah Dasar Kelas 5. Jakarta: Erlangga.

No comments:

Post a Comment

Bagi yang menginginkan contoh PTK lengkap bisa SMS ke 081328239660