Showing posts with label IPA. Show all posts
Showing posts with label IPA. Show all posts

Sunday, March 9, 2014

Latar Belakang Masalah BAB I Pendahuluan PTK

BAB I PENDAHULUAN

Rata-rata nilai ulangan harian yang diperoleh siswa kelas III SD Negeri Tambaharjo Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen pada topik penggolongan tumbuhan berdasarkan biji dan daunnya hanya 55 dan hanya 54% siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) 60. Berdasarkan refleksi yang dilakukan Bapak Guru Rinoto, teridentifikasi masalah bahwa 1) siswa kelas III SD Negeri Tambaharjo kurang dapat menjelaskan konsep penggolongan tumbuhan berdasarkan biji dan daunnya; dan 2) siswa pada kelas tersebut kurang memperhatikan penjelasan guru.

Dari hasil identifikasi masalah tersebut, Bapak Rinoto melakukan analisis masalah. Diperoleh kemungkinan penyebab permasalahan di atas muncul adalah sebagai berikut:
  1. Guru tidak memberikan contoh nyata dari tumbuhan tersebut tetapi hanya melalui gambar.
  2. Saat memberikan materi, guru hanya menggunakan metode ceramah.
  3. Guru menggunakan media yang berupa gambar tumbuhan, tetapi memiliki warna yang kurang menarik bagi siswa.
Berdasarkan analisis masalah, maka Bapak Rinoto mengusulkan alternatif pemecahan masalah atau tindakan perbaikan yang dilakukan adalah menggunakan metode yang bervariasi pada saat pembelajaran tentang konsep penggolongan tumbuhan dengan menggunakan contoh daun dan biji sebenarnya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan kualitas pembelajaran SD Negeri Tambaharjo kelas III.

Dengan memperhatikan penjelasan tersebut maka rumusan masalah penelitiannya adalah "Bagaimana menerapkan metode yang bervariasi dalam pembelajaran tentang konsep penggolongan tumbuhan dengan menggunakan contoh daun dan biji sebenarnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran SD Negeri Tambaharjo Kelas III?"

Friday, October 25, 2013

Contoh Karil Karya Ilmiah IPA Terbaru

Karya Ilmiah yang sering disebut dengan karil adalah ringkasan laporan PTK Penelitian Tindakan Kelas sebagai syarat tugas akhir perkuliahan untuk meraih titel Sarjana Pendidikan S1.

Berikut ini contoh Contoh Karil Karya Ilmiah IPA Terbaru 2013:


UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN SISWA DAN
HASIL BELAJAR IPA TENTANG PENGARUH ENERGI
MELALUI METODE INKUIRI DI SD
Oleh: Peneliti
e-mail: peneliti@gmail.com

Saturday, September 21, 2013

Contoh Kajian Pustaka dalam PTK IPA

Contoh Kajian Pustaka dalam PTK IPA - Kajian Pustaka dalam suatu penelitian adalah sesuatu yang sangat penting, karena keabsahan penelitian sangat tergantung pada kajian pustakanya. Banyak mahasiswa atau guru yang bingung dalam memilih pustaka sebagai acuan untuk penelitiannya.

Berikut ini Contoh Kajian Pustaka dalam PTK IPA dan daftar pustakanya, mudah-mudahan bermanfaat bagi para pembaca yang budiman. Artikel ini sebagai referensi saja.

Friday, April 27, 2012

PTK IPA KELAS IV BAB III

Berikut ini contoh PTK IPA Kelas IV BAB III

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Setting Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di SD ......................, Kecamatan ............................, Kabupaten ............................. SD yang beralamatkan di RT. 03 RW. 03, ............................, ............................ ini merupakan SD yang cukup diminati oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya pendaftar yang cukup banyak setiap tahunnya, sehingga jumlah siswa setiap kelasnya mencapai 50 anak. Penelitian ini dilaksanakan pada semester dua, menurut kalender pendidikan sekolah dasar, khususnya SD ....................... Penelitian ini dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari 2011 hingga akhir bulan Mei 2011, dengan tabel jadwal penelitian sebagai berikut:

PTK IPA KELAS IV BAB II

Berikut ini contoh PTK IPA Kelas IV BAB II Kajian Pustaka

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.                            Kajian Teori
1.      Pengertian Hasil Belajar IPA
Sebagai landasan dalam merencanakan dan melaksanakan PTK ini, akan diuraikan secara berturut-turut pengertian hasil belajar IPA.
a.    Hakikat Pendidikan IPA
Secara sederhana IPA didefinisikan sebagai ilmu tentang fenomena alam semesta. Dalam kurikulum 2004 sains (IPA) diartikan sebagai cara mencari tahu secara sistematis tentang alam semesta. Menurut Herlen dalam Dahar R.W (1992:3) seperti yang diucapkan Einstein: “Science is the attempt to make the chaotic diversity of our sense experience correspond to a logically uniform system of thought”, mempertegas bahwa IPA merupakan suatu bentuk upaya yang membuat berbagai pengalaman  menjadi satu sistem pola berpikir logis tertentu, yang dikenal dengan pola berpikir ilmiah.

PTK IPA KELAS IV BAB I

Berikut ini contoh PTK IPA Kelas IV BAB I Pendahuluan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar  Belakang Masalah
      Mengajar tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga merupakan kegiatan guru untuk membimbing atau memfasilitasi siswa untuk menemukan pengetahuan dan pengalaman belajar.
      Menurut Robert J. Havighurt dalam Mikarsa (1995:7) anak usia SD memiliki karakteristik senang bermain, senang bergerak, senang belajar atau bekerja dalam kelompok dan senang melakukan atau melaksanakan serta memperagakan sesuatu secara langsung. Karakteristik membawa implikasi bahwa guru harus mampu merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan, anak berpindah atau bergerak, anak bekerja dalam kelompok, dan anak terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan penemuan informasi. Hal ini senada dengan pendapat yang disampaikan oleh Ningrum (2003:41) “mengajar adalah membina siswa bagaimana belajar, bagaimana berfikir, dan bagaimana mencari informasi.

Tuesday, April 24, 2012

PTK IPA KELAS V BAB IV


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  1. Deskripsi per Siklus
1.      Siklus I
a.       Perencanaan
Data yang diperoleh dalam perencanaan pelaksanaan perbaikan pembelajaran Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini berupa Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang di dalamnya tercakup komponen skenario pembelajaran yang akan diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar.
Peneliti juga memperoleh seperangkat instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data, berupa lembar pengamatan tingkat keaktifan siswa, angket siswa, dan daftar nilai tes formatif pada akhir siklus perbaikan pembelajaran.
Data pendukung pembelajaran lainnya berupa lembar kerja siswa (LKS), lembar evaluasi, alat peraga, dan gambar-gambar.
b.      Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran siklus I ini diperoleh data nilai tes formatif siswa sebagai pengukur tingkat keberhasilan pembelajaran dan ketuntasan belajar siswa pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran yaitu sebagai berikut:
 Tabel 4.1   Nilai Tes Formatif Siklus I

 Gambar 4.1. Grafik Ketuntasan  Siklus 1 (dalam persen)
c.       Pengamatan
Pada tahap pengamatan, diperoleh data sebagai berikut:
Tabel  4.2 Peningkatan Keaktifan Siswa Siklus I
Gambar 4.2 Grafik Keaktifan Siswa Siklus I
d.      Refleksi
Berdasarkan analisis data nilai tes formatif tindakan perbaikan pembelajaran siklus I diperoleh data bahwa 17 siswa (70,83%) dari 24 siswa telah tuntas, berarti masih ada 7 siswa (29,17%) yang belum tuntas.
Nilai rata-rata kelas pada tes awal 61,67. Pada siklus I nilai rata-rata kelas mencapai 71,67, berarti mengalami kenaikan sebesar 10 poin.
Keaktifan siswa dari tes awal ke siklus I mengalami peningkatan dari 10 anak (41,67%) menjadi 17 anak (70,83%).
Kesimpulan sementara dari hasil tindakan yang telah  dilakukan menunjukkan peningkatan, tetapi belum mencapai tingkatan yang diharapkan sesuai indikator keberhasilan, untuk itu perlu dilaksanakan siklus II.
2.      Siklus II
a.         Perencanaan
Data yang diperoleh dari perencanaan perbaikan pembelajaran siklus II berupa Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang di dalamnya tercakup komponen skenario pembelajaran yang akan diimplementasikan di dalam proses perbaikan pembelajaran pada siklus II dalam dua kali pertemuan, seperangkat instrumen yang akan digunakan  untuk pengumpulan data, dan data pendukung pembelajaran berupa lembar kerja siswa (LKS) dan lembar tes formatif.
Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) siklus II ini merupakan penyempurnaan dari RPP siklus I yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II ini.
b.        Tindakan
Pada tahap tindakan perbaikan pembelajaran siklus II ini diperoleh data berupa nilai tes formatif siswa sebagai berikut:
Tabel 4.3   Nilai Tes Formatif Siklus II
Gambar 4.3. Grafik Ketuntasan  Siklus I1 (dalam persen)
c.         Pengamatan
Pada tahap pengamatan, diperoleh data sebagai berikut:
Tabel  4.4 Peningkatan Keaktifan Siswa Siklus II
Gambar 4.4 Grafik Peningkatan Keaktifan Siswa Siklus II
d.        Refleksi
Berdasarkan data nilai tes formatif pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran siklus II, seluruh siswa yaitu 24 anak (100%) yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan telah mencapai ketuntasan.
Nilai rata-rata kelas pada siklus I 71,67. Pada siklus II nilai rata-rata kelas mencapai 81,67, itu berarti mengalami peningkatan 10 poin.
Keaktifan siswa dari pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran siklus I ke siklus II mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu mencapai 93,06%, siswa terlihat antusias mengikuti proses pembelajaran.
Kesimpulan hasil tindakan perbaikan pembelajaran siklus II yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan yang sangat baik, hasil belajar siswa menunjukkan tingkat ketuntasan maksimal, yaitu 100%, untuk itu pelaksanaan perbaikan pembelajaran dihentikan pada siklus II.

  1. Pembahasan Hasil Penelitian
Pada tahap studi awal pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kompetensi dasar mendeskripsikan hasil pengamatan tentang mengidentifikasi cara tumbuhan hijau membuat makanan diperoleh hasil yang rendah. Hal ini terbukti bahwa data perolehan nilai tindakan perbaikan pembelajaran studi awal dari jumlah 24 siswa, baru 10 siswa (41,67%) yang memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), berarti masih ada 14 siswa (58,33%) yang belum tuntas.
Nilai rata-rata kelas menunjukkan angka 61,67, dan hasil ketuntasan klasikal baru mencapai angka 55,56%. Hal ini terlihat seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 4.7 Hasil Tes Formatif Studi Awal
Rendahnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan karena 1) kurangnya perhatian siswa dalam proses pembelajaran, 2) kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran, 3) kurangnya kesempatan siswa dalam bertanya, dan 4) rendahnya tingkat penguasaan materi yang baru dipelajari.
Tabel 4.8   Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Siklus I
Gambar 4.7 Grafik Perkembangan Ketuntasan  Siklus I (dlm persen)
Dari tabel dan grafik di atas dapat dijelaskan bahwa pada studi awal nilai rata-rata kelas 61,67 setelah dalakukan perbaikan mengalami kenaikan menjadi 71,67.
Pada studi awal 10 anak (41,67%) tuntas belajar pada siklus I naik menjadi 17 anak (70,83%). Kenaikannya sebanyak 7 anak (29,17%).
Alternatif pemecahan masalah untuk mengawasi rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep mengidentifikasi cara tumbuhan hijau membuat makanan dan rendahnya kesungguhan belajar siswa dengan menggunakan alat peraga kongkret dalam pembelajaran di kelas V SD ..........................., Kecamatan ..........................., Kabupaten ..........................., ternyata memberikan kenaikan hasil belajar dan keaktifan belajar signifikan jika dibandingkan dengan studi sebelumnya.
Berkat intervensi ini ada kenaikan ketuntasan belajar sebesar 29,16%. Kenaikan nilai rata-rata sebesar 10 poin dan kenaikan keaktifan belajar siswa sebesar 29,16%. Intervensi yang dilakukan dengan mengimplementasikan metode inkuiri dalam pembelajaran ternyata menimbulkan ketertarikan bagi siswa, sehingga berimplikasi pada kesungguhan belajar. Ternyata berkolerasi positif dengan peningkatan hasil belajar siswa.
Kehadiran alat peraga dalam pembelajaran telah mampu mempermudah siswa dalam belajar. Hal ini seperti tercantum dalam Encyclopedia of Educational Research (dalam Oemar Hamalik, 2004:6) media memiliki manfaat di antaranya; meletakkan dasar berfikir kongkret, memberikan pengalaman nyata dan menumbuhkan pemikiran yang kontinyu, yang membuat pembelajaran lebih mantap. Di samping itu, model juga dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa dan juga keterbatasan indera, ruang, dan waktu (Oemar Hamalik, 2004:16-19).



Pada tahap pelaksanaan perbaikan siklus II diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.9   Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Siklus II
Gambar 4.9. Grafik Perkembangan Ketuntasan  Siklus I1 (dalam persen)
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada siklus I nilai rata-rata kelas 71,67 setelah dalakukan perbaikan mengalami kenaikan menjadi 81,67. Siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar pada siklus I adalah 17 anak (70,83%) dan pada siklus II menjadi 24 anak (100%). Kenaikan ketuntasan belajar siswa pada siklus II sebanyak 7 (29,17%).
Setelah dilakukan intervensi terhadap kelemahan refleksi pada siklus I, melalui bimbingan dalam diskusi kelompok kecil kenaikan ketuntasan belajar siswa semakin terlihat. Kenaikan ketuntasan belajar sebesar 29,17%, kenaikan rata-rata kelas sebesar 10 poin dan kenaikan keaktifan siswa sebesar 29,16%. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Slamet Tri Hartanto (2007:8), “Setiap media sudah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk memperoleh hasil yang optimal, pemilihan media di antaranya perlu memperhatikan jumlah siswa atau besar kecilnya kelas”.
Faktor lain yang ikut memberi kontribusi terhadap peningkatan hasil belajar siswa adalah dengan diberikannya kesempatan kepada siswa untuk melakukan peragaan dalam kelompok. Hal ini memberikan pengalaman nyata. 
Ternyata dengan jumlah 3 siswa, kerja kelompok lebih baik dan semua siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dan semua siswa memperoleh pengalaman nyata dari pembelajaran. Seperti dikatakan Edgar Dale bahwa pengalaman belajar yang paling tinggi nilainya adalah pengalaman belajar langsung dan melakukan sendiri.

Friday, April 20, 2012

PTK IPA KELAS III BAB V


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
  1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan temuan yang diperoleh pada siklus I, II, dan III dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Penggunaan metode pembelajaran inkuiri dengan metode bervariasi dari diskusi, penugasan, peragaan, dan pengamatan pada pembelajaran IPA konsep “pengaruh energi”, dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2.      Penggunaan metode pembelajaran inkuiri dengan metode bervariasi dari diskusi, penugasan, peragaan, dan pengamatan pada pembelajaran IPA konsep “pengaruh energi”, dapat meningkatkan keaktifan siswa belajar.

PTK IPA KELAS III ABSTRAK

Abstrak merupakan intisari dari sebuah laporan PTK maupun karya ilmiah. Dengan membaca abstrak, kita sudah bisa mengetahui garis besar permasalahan yang dibahas dalam sebuah laporan PTK. Berikut ini contoh ABSTRAK PTK IPA KELAS III:

ABSTRAK

Nama. Upaya Peningkatan Hasil Belajar IPA tentang Pengaruh Energi melalui Penggunaan Metode Inkuiri di Kelas III SD. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Program Studi S1 PGSD. FKIP. Universitas Tahun.

Rumusan masalah yang disusun adalah sebagai berikut: Apakah penggunaan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III terhadap materi pembelajaran IPA tentang pengaruh energi? Apakah penggunaan metode inkuiri dapat meningkatkan peran aktif siswa kelas III dalam proses pembelajaran IPA?

Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk memperoleh informasi faktual tentang penggunaan metode inkuiri: 1) terhadap kemudahan siswa dalam memahami materi pembelajaran; 2) terhadap peningkatan kesungguhan belajar siswa; 3) terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan melalui proses beralur terdiri dari 4 tahap, yaitu: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan; 3) Observasi; dan 4) refleksi.

Dari analisis data diketahui bahwa pada setiap siklus terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa. Pada studi awal, siswa yang mencapai ketuntasan baru 48%. Pada siklus I siswa yang mencapai ketuntasan mengalami kenaikan 12% dari studi awal menjadi 60%. Pada siklus II siswa yang mencapai ketuntasan mengalami kenaikan 12% dari siklus I menjadi 72%, dan pada siklus III mengalami kenaikan 28% menjadi 100%. Hal yang sama juga terjadi pada kesungguhan belajar siswa.

Berdasarkan hasil analisis data penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Penggunaan metode inkuiri mampu mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran; Penggunaan metode inkuiri mampu meningkatkan kesungguhan siswa dalam belajar; Penggunaan metode inkuiri mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Wednesday, April 4, 2012

PTK IPA KELAS II BAB IV

BAB IV
PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

  1. Pelaksanaan Penelitian
1.         Siklus I
a.         Perencanaan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran Siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan, yaitu pertemuan I pada hari Selasa tanggal 8 Maret 2011 dan pertemuan II tanggal 15 Maret 2011.
Sebelum melaksanakan tindakan perbaikan, dilakukan persiapan terakhir. Langkah-langkah yang dilakukan adalah Memeriksa Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran (RPPP) yang telah disusun, dibaca ulang, dan mencermati setiap butir yang akan direncanakan.