Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Wednesday, February 19, 2014

Contoh Daftar Pustaka PTK Kelas I Bahasa Indonesia

Hal terpenting dalam laporan PTK adalah Daftar Pustaka, berikut ini contoh Daftar Pustaka PTK dengan judul penggunaan metode SAS Bahasa Indonesia Kelas I

DAFTAR PUSTAKA

Badudu dan Zain . (1994). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Daliman, dkk. (1996). Metode Pembelajaran. Bandung: Sinar Baru

Darmiyati Zuchdidan Budiasih. 2001. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Di Kelas Rendah. Yogyakarta : PAS.

Djago Tarigan dkk. 2005. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Di Kelas Rendah. Jakarta : Universitas Terbuka.

Hasbullah, Kasihani. 1998. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Malang : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Houston, W.R. Clift, R.T, Freiberg, H.J, Warner, A.R. (1988). Touch the Future Teach, St Paul: West Publishing Co.

http://nizland.wordpress.com/2007/11/24/membaca/, 22 April 2011.

http://en-us.www.mozilla.com/en-US/firefox/central/), 22 April 2011.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Dasar/Madrasah Ibdidaiyah. 2007/2008. Kebumen: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen.

Pembelajaran (PTK). Purwokerto: Universitas Terbuka.

Purwanto, M. Ngalim. 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Rosdakarya.

Ristasa, Rusna & H. Prayitno. 2006. Panduan Penulisan Laporan Perbaikan.

St. Y. Slamet dan Amir. 1996. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Di Kelas Rendah. Surakarta : FKIP UNS.

Suharsimi Arikunto. 2002. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Malang : DepartemenPendidikan dan Kebudayaan.

Sumantri, Mulyani dan Johar Permana. (2001). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Maulana.

Tarmizi Ramadhan's. 2008. Metode Peinbelajaran Membaca Permulaan. Diakses dari http://tarmizi.wordpress.com/2008/12/02/penerapan_metode_pembelajaran_membaca_permulaaan/ Pada tanggal 21 April 2011.

Udin S. Winata Putra, dkk. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wardhani, I.G.A.K. dkk. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

Tuesday, February 18, 2014

PTK Kelas I Bahasa Indonesia BAB V

Berikut ini contoh PTK Kelas I Bahasa Indonesia BAB V dengan judul tentang penggunaan metode SAS di Kelas I mata pelajaran Bahasa Indonesia

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan


Berdasarkan pembahasan belajar menulis permulaan melalui metode SAS pada siswa kelas I SD dapat disimpulkan bahwa “penggunaan metode SAS dalam pembelajaran Aktif dapat meningkatkan hasil belajar membaca dan menulis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas I SD ... Tahun Pelajaran ...”.

B.    SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam upaya meningkatkan mutu proses pembelajaran membaca dan menulis pennulaan, adapun saran-saran dapat diuraikan sebagai berikut:
1.    Bagi Guru/Peneliti
a.    Guru SD hendaknya menggunakan metode SAS dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan di kelas I.
b.    Pada saat mengajar guru harus menunjukkan sikap sebagai seorang guru yang simpatik, dan berwibawa yaitu siap administrasi dan siap materi serta menggunakan metode yang tepat.
c.    Dalam mengajarkan membaca dan menulis permulaan di kelas I SD guru menggunakan huruf cetak khususnya huruf kecil.
d.    Untuk meningkatkan profesionalisme, seorang guru harus meningkatkan dan meperbaiki pembelajaran guna mewujudkan cita-cita.
2.    Bagi Siswa
a.    Siswa harus aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran melalui peragaan, pengamatan, dan latihan untuk dapat meningkatkan hasil belajarnya.
b.    Siswa hendaknya berani dalam bertanya, mengemukakan pendapat, atau menanggapi pendapat siswa lain dalam proses diskusi kelompok.
c.    Siswa harus selalu melatih keterampilan mengamati agar hasil belajarnya bisa meningkat.
3.    Bagi Sekolah
a.    Sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana misalnya alat peraga dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
b.    Sekolah harus memberikan kesempatan kepada guru seluas-luasnya untuk mengembangkan kreatifitasnya dengan kegiatan pendidikan dan pelatihan peningkatan profesionalisme guru.
c.    KKG/MGMP yang telah lama ada agar diberdayakan lagi, kegiatan lesson study juga merupakan tempat yang sangat baik guna meningkatkan kemampuan guru dalam peningkatan kualitas pembelajaran.

D.    Tindak Lanjut
Hasil dari penelitian ini akan ditindaklanjuti dengan meminimalkan pengulangan pembelajaran. Hasil penelitian akan diujicobakan pada materi atau mata pelajaran lain.
Hasil penelitian akan disampaikan kepada teman seprofesi dalam acara KKG atau MGMP tingkat gugus dan Kecamatan.

Contoh PTK Bahasa Indonesia BAB IV Kelas I

Contoh PTK Bahasa Indonesia BAB IV Kelas I dengan judul tentang penggunaan metode SAS untuk peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa.

BAB IV
PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A.    Pelaksanaan Penelitian
1.    Siklus I
Hasil tes awal mata pelajaran Bahasa Indonesia kompetensi dasar memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi anak, siswa yang tuntas ada 5 dari 13 siswa,  maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran. Sebelum pelaksanaan perbaikan pembelajaran guru membuat rencana tindakan atau yang sering disebut rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPPP).
a.    Perencanaan
Siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal bulan tahun dan pertemuan kedua tanggal bulan tahun.
Pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I pertemuan I menggunakan metode SAS. Sebelum melaksanakan tindakan perbaikan, peneliti memeriksa kembali Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran (RPPP) yang telah disusun, sambil mencermati kembali setiap tujuan yang telah direncanakan.
Peneliti memeriksa semua media dan sarana lainnya yang akan digunakan, seperti teks bacaan “Kehujanan”, gambar suasana hujan, lembar kerja siswa, lembar observasi, lembar evaluasi, dan lain-lain.
Peneliti mempelajari langkah-langkah penggunaan metode SAS supaya dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan sesuai urutan yang benar. Setelah diyakini benar bahwa metode akan dapat bermanfaat bagi anak. Memeriksa kembali urutan yang telah dirancang, atau skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan mulai dari kegiatan awal sampai dengan kegiatan akhir.
Peneliti memikirkan hal-hal yang mungkin dapat mengganggu pembelajaran, seperti: keributan ketika peragaan berlangsung, pembentukan kelompok yang tidak sesuai dengan keinginan anak, pertanyaan yang tidak dijawab oleh anak, atau ada anak yang tidak tertarik pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Kemudian peneliti berusaha untuk merencanakan/merancang cara mengantisipasinya dan mampu memberikan suatu solusi yang tepat kepada siswa, sehingga apa yang telah diberikan tidak menghambat proses perbaikan yang sedang dilaksanakan.
Memeriksa kembali kelengkapan dan ketersediaan alat pengumpul data, seperti lembar observasi, yang sudah disepakati bersama dengan teman sejawat selaku observer.
Meyakini fungsi dan alat penilaian sebagai upaya untuk mendapatkan hasil evaluasi sesuai dengan tujuan perbaikan pembelajaran, sehingga instrumen yang dibuat sesuai dengan kajian teori yang ada dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Kegiatan terakhir, kembali meyakinkan bahwa teman sejawat yang sebagai pengamat akan membantu terlaksananya perbaikan pembelajaran dan sudah siap di kelas waktu pembelajaran akan dimulai, sehingga akan dapat diikuti dari pembukaan sampai Penutup.
b.    Tindakan
Pertemuan I
1)    Kegiatan Awal
Tindakan penelitian siklus I pertemuan pertaman dilaksanakan pada hari Senin tanggal bulan tahun. Kegiatan awal dilaksanakan selama 10 menit.
Peneliti masuk kelas mengucapkan salam, setelah mengucapkan salam, kemudian berdo`a, mengabsen, memberi acuan dan apersepsi, “Siapa yang pernah kehujanan?”
Peneliti menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu melalui pengamatan gambar siswa dapat membaca lancar beberapa kalimat sederhana dengan intonasi yang benar, menuliskan kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan benar.
2)    Kegiatan Inti
Kegiatan inti dilaksanakan selama 40 menit, siswa dan peneliti bersama-sama menyayikan lagu “Tik-Tik Bunyi Hujan.”

Tik-tik-tik
Bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Lading dan kebun basah semua

Peneliti dan siswa bertanya jawab tenang isi lagu yang telah dinyanyikan bersama, peneliti menjelaskan kalimat lagu tersebut menggunakan metode SAS.

                    Tik-tik-tik                   
                tik        Tik        tik               
    t    i    k        t    i    k        t    i    k   
                tik        Tik        tik               
                    Tik-tik-tik                   
                                               
Bunyi hujan
bunyi                hujan
bu    nyi                hu    jan
b    u    n    y    i                h    u    j    a    n
bu    nyi                hu    jan
bunyi                hujan
Bunyi hujan
                                               
Peneliti menjelaskan cara membaca dengan memberikan contoh menggunakan metode SAS, berupa pemenggalan kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf. Dengan memahami huruf secara optimal siswa dapat merangkaikan huruf tersebut menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan pada akhirnya akan memudahkan siswa dalam meningkatkan kelancaran membaca dan menulis.
Peneliti membagikan lembar kerja siswa berupa gambar kegiatan siswa, siswa ditugaskan untuk mengerjakan lembar kerja secara individual.
Selama siswa mengerjakan lembar kerja, teman sejawat melakukan pengamatan terhadap keaktifan siswa, proses pembelajaran, dan kegiatan peneliti untuk mengetahui penyebab permasalahan rendahnya hasil belajar siswa.
Setelah selesai mengerjakan lembar kerja, siswa melaporkan hasil kerja di depan kelas bergantian, siswa yang lain memberikan tanggapan. Siswa mengumpulkan lembar kerja untuk diberi nilai.
Siswa dengan bimbingan peneliti menyimpulkan pelajaran, siswa merangkum dan mencatat di buku tulis masing-masing.
3)    Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir perbaikan pembelajaran dilaksanakan selama 20 menit. Siswa dengan bimbingan peneliti menyimpulkan hasil pengamatan dan merangkum materi pembelajaran yang telah dipelajari.
Peneliti membacakan kembali hasil diskusi siswa dan menegaskan materi yang telah dipelajari, memberikan tugas rumah kepada siswa.
Peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran dengan mengucapkan salam.
Pertemuan II
1)    Kegiatan Awal
Tindakan penelitian siklus I pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Senin tanggal bulan tahun. Kegiatan awal dilaksanakan selama 10 menit.
Peneliti masuk kelas mengucapkan salam, setelah mengucapkan salam, kemudian berdo`a, mengabsen, memberi acuan dan apersepsi, “pertanda apakah Langit mendung itu?”
Peneliti menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu melalui pengamatan gambar siswa dapat membaca lancar beberapa kalimat sederhana dengan intonasi yang benar, menuliskan kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan benar.
2)    Kegiatan Inti
Kegiatan inti siklus I pertemuan II dilaksanakan selama 40 menit. Siswa dan peneliti bersama-sama membaca teks bacaan berikut ini:
KEHUJANAN
Langit mendung hujan akan turun
Wandi segera keluar dari kelas
Yudi menyusulnya
Wandi dan Yudi pulang bersama
Mereka berjalan cepat
Mereka takut kehujanan
Ternyata hujan turun
Mereka belum sampai ke rumah
Tubuh mereka basah kuyup
Keesokan harinya Yudi tidak sekolah Yudi sakit
Wandi menjenguknya sepulang sekolah
Yudi amat bahagia
Wandi berkata, “Semoga kamu lekas sembuh.”
Setelah siswa terfokus pada pembelajaran, langkah berikutnya yang dilakukan peneliti yaitu membagi lembar kerja siswa, untuk dikerjakan secara individu.
Selama siswa mengerjakan lembar kerja, peneliti bergerak dari meja satu ke meja lain untuk melakukan bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan. Peneliti juga membagi buku sumber belajar kepada setiap siswa.
Setelah selesai mengerjakan lembar kerja, beberapa siswa mempresentasikan hasil kerja, siswa lain menanggapi, sementara observer mengamati keterlibatan siswa dan mengamati keaktifan siswa dalam pembelajaran, sedangkan peneliti hanya sebagai fasilitator.
Peneliti memberikan kesempatan bertanya kepada siswa untuk menanyakan hal yang belum jelas. Peneliti dan siswa menganalisa hasil kerja yang diteruskan dengan pengambilan kesimpulan
3)    Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir dilaksanakan selama 20 menit. Peneliti membacakan kembali hasil diskusi kelompok dan menegaskan materi, membimbing siswa merangkum materi yang telah dipelajari.
Siswa mengerjakan tes formatif untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah diterimanya, kemudian dilanjutkan dengan penilaian dan tindak lanjut.
Peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran dengan mengucapkan salam.
c.    Pengamatan
Selama pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran berlangsung, observer melaksanakan tugas mengobservasi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, proses perbaikan pembelajaran, dan kegiatan yang dilakukan peneliti selama melaksanakan perbaikan.
Beberapa siswa ada yang sudah dengan lancar dapat membaca dan menulis, akan tetapi masih ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis.
Mereka pada umumnya belum paham terhadap huruf, sehingga kesulitan untuk membaca.
d.    Refleksi
Aktivitas siswa pada pelaksanaan siklus I menunjukkan bahwa siswa cukup antusias dalam mengikuti pelajaran, tetapi masih terdapat beberapa siswa yang kurang memperhatikan, cenderung bermain sendiri dan mengganggu teman yang lain. Oleh karena itu, perlu diupayakan bentuk kegiatan yang dapat mencegah timbulnya hal-hal negatif tersebut, misalnya siswa diberi tugas lain yang bersifat pengayaan.
Kurang aktifnya siswa dalam kelompok, belum maksimalnya motivasi belajar guru kepada siswa dapat diketahui melalui pembagian angket kepada semua siswa dengan hasil 5 siswa menyatakan “Ya” berarti membantu mempermudah, 8 siswa menyatakan “Tidak” dan minimnya buku sumber siswa merupakan faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa.
Hasil pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran pada tes awal adalah 3 siswa (23%) tuntas, sedangkan 10 siswa (77%) belum tuntas. Dengan demikian pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus ini belum berhasil, maka harus dilakukan perbaikan pembelajaran siklus II.
Berdasarkan fakta tersebut, peneliti dan observer sepakat melakukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya. Hasil tes dan catatan observer dianalisis untuk selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam merancang tindakan perbaikan  siklus II. Tidak seperti pada siklus II yang pembelajarannya dilaksanakan secara klasikal, maka siklus II nanti akan dilaksanakan secara kelompok yang terdiri dari 3 kelompok.
2.    Siklus II
Hasil yang dicapai dalam pelaksanaan tindakan perbaikan siklus I, menjadi acuan tindakan perbaikan pada siklus II yang akan dilaksanakan dengan lebih serius. Hambatan-hambatan yang mungkin muncul pada siklus I, akan diatasi dalam tindakan perbaikan siklus II ini. Hal ini dimaksudkan agar perubahan perilaku relatif tetap, Sebab  pada hakekatnya, untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap; harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang (Purwanto, 1997: 85). Itu berarti, apabila hanya dengan satu kali tindakan perbaikan telah berhasil meningkatkan prestasi dan minat belajar siswa, pada dasarnya belum memenuhi kriteria “relatif mantap” serta “akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang”.
Untuk memenuhi harapan itu, dilaksanakan tindakan perbaikan siklus II dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Perencanaan
Siklus II dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal bulan tahun dan pertemuan kedua tanggal bulan tahun. Pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I pertemuan II menggunakan metode SAS. Peneliti dan pengamat memfokuskan perencanaan perbaikan pada optimalisasi kerja siswa pada saat melakukan diskusi secara kelompok.
Pada siklus II ini peneliti membuat lembar pengamatan siswa dan mempersiapkan lembar kerja siswa (LKS) yang lebih sempurna dengan dilengkapi perintah yang jelas. Peneliti juga menyiapkan beberapa alat bantu/peraga seperti gambar-gambar kegiatan siswa untuk diamati siswa.
Peneliti memeriksa kembali RPPP yang telah disusun, sambil mencermati kembali setiap butir-perbutir tujuan yang telah direncanakan dengan penyempurnaan-penyempurnaan.
Menambah media dan sarana lainnya yang akan digunakan, apakah sudah benar-benar tersedia lengkap baik jumlah dan kondisi serta jumlah lebih banyak lebih baik. Memeriksa kembali urutan yang telah dirancang, atau skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan mulai dari kegiatan awal sampai dengan kegiatan akhir.
Peneliti memikirkan hal-hal yang mungkian dapat mengganggu pembelajaran, seperti: keributan ketika, pembentukan kelompok dan pelaksanaan diskusi, atau pertanyaan yang tidak dijawab oleh anak. Kemudian peneliti mencoba merencana/merancang berbagai cara untuk mengantisipasi. Apabila hal tersebut benar-benar terjadi segera dapat diatasi. Memeriksa kembali kelengkapan dan ketersediaan alat pengumpul data, seperti lembar observasi, yang sudah disepakati bersama dengan teman sejawat selaku observer.
Kegiatan terakhir, meyakinkan bahwa teman sejawat yang sebagai pengamat akan membantu telah siap dan sudah menyiapkan diri di kelas ketika perbaikan pembelajaran akan dimulai.
Perbaikan pembelajaran pada siklus kedua dilaksanakan dua kali pertemuan, masing-masing pertemuan waktu yang butuhkan adalah 2 x 35 menit.
b.    Tindakan
Pertemuan I
1)    Kegiatan Awal
Kegiatan awal dilaksanakan selama 10 menit. Sebagaimana peneliti laksanakan pada kegiatan awal tindakan perbaikan pembelajaran siklus pertama, Peneliti masuk ke kelas mengucap salam, berdoa bersama, mengabsen, memberi acuan dan apersepsi.
Pada kegiatan awal tindakan perbaikan pembelajaran siklus kedua inipun, sebelum memasuki kegiatan inti, peneliti terlebih dahulu menciptakan situasi kelas yang kondusif bagi berlangsungnya pembelajaran. Peneliti juga mengingatkan kembali pembelajaran siklus pertama, serta membangkitkan motivasi agar siswa aktif selama pembelajaran berlangsung.
2)    Kegiatan Inti
Kegiatan inti pada pertemuan I ini dilaksanakan selama 40 menit. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa pada perbaikan siklus kedua, peneliti membagi siswa menjadi 3 kelompok yang terdiri dari 4 siswa kemudian dilanjutkan membagikan lembar kerja.
Pada perbaikan siklus kedua ini, peneliti menginginkan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa sebagaimana terjadi pada siklus pertama, tidak lagi terulang.
Peneliti terus mendampingi secara bergiliran kelompok-kelompok yang sedang menyelesaikan tugas. Peneliti berharap agar perbaikan pembelajaran pada siklus kedua ini bisa mencapai tingkat keberhasilan yang signifikan.
Selama siswa mengerjakan lembar kerja, peneliti bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain untuk melakukan bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan. Peneliti juga membagi buku sumber belajar kepada setiap siswa.
Setelah selesai mengerjakan lembar kerja, beberapa siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok, siswa lain menanggapi, sementara observer mengamati keterlibatan siswa dan mengamati keaktifan siswa dalam pembelajaran, sedangkan peneliti hanya sebagai fasilitator
Mengakhiri kegiatan inti tindakan perbaikan pembelajaran siklus kedua pertemuan I ini, peneliti memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menanyakan, membimbing siswa untuk menyimpulkan materi.
3)    Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir pertemuan I siklus II dilaksanakan selama 20 menit. Peneliti membacakan kembali hasil kesimpulan diskusi kelompok dan menegaskan materi perbaikan pembelajaran. Peneliti memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah secara individu. Kegiatan akhir diakhiri dengan memberi motivasi kepada siswa untuk tetap bersemangat dalam pembelajaran-pembelajaran mendatang, peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran dengan salam.

Pertemuan II
1)    Kegiatan Awal
Pertemuan kedua siklus II dilaksanakan pada hari Senin tanggal bulan tahun. Kegiatan awal dilaksanakan selama 10 menit. Sebagaimana peneliti laksanakan pada kegiatan awal tindakan perbaikan pembelajaran pertemuan pertama siklus II lalu, peneliti masuk ke kelas mengucap salam, berdoa bersama, mengabsen, memberi acuan dan apersepsi.
Pada kegiatan awal tindakan perbaikan pembelajaran siklus kedua inipun, sebelum memasuki kegiatan inti, peneliti terlebih dahulu menciptakan situasi kelas yang kondusif bagi berlangsungnya pembelajaran.
Peneliti juga mengingatkan kembali pembelajaran pertemuan I, serta membangkitkan motivasi agar selalu terlibat aktif selama proses pembelajaran berlangsung.
Peneliti menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu melalui pengamatan gambar siswa dapat membaca lancar beberapa kalimat sederhana dengan intonasi yang benar, menuliskan kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan benar.
2)    Kegiatan Inti
Kegiatan inti pada pertemuan II ini dilaksanakan selama 40 menit. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa pada perbaikan siklus kedua, peneliti membagi siswa menjadi 3 kelompok yang terdiri dari 4 siswa kemudian dilanjutkan membagikan lembar kerja.
Pada perbaikan siklus kedua ini, peneliti menginginkan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa sebagaimana terjadi pada pertemuan I, tidak lagi terulang.
Peneliti terus mendampingi secara bergiliran kelompok-kelompok yang sedang menyelesaikan tugas. Peneliti berharap agar perbaikan pembelajaran pada siklus kedua ini bisa mencapai tingkat keberhasilan yang signifikan.
Selama siswa mengerjakan lembar kerja, peneliti bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain untuk melakukan bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan. Peneliti juga membagi buku sumber belajar kepada setiap siswa.
Setelah selesai mengerjakan lembar kerja, beberapa siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok, siswa lain menanggapi, sementara observer mengamati keterlibatan siswa dan mengamati keaktifan siswa dalam pembelajaran, sedangkan peneliti hanya sebagai fasilitator
Mengakhiri kegiatan inti tindakan perbaikan pembelajaran siklus kedua pertemuan I ini, peneliti memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menanyakan, membimbing siswa untuk menyimpulkan materi
3)    Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir pertemuan II siklus II dilaksanakan selama 20 menit. Peneliti membacakan kembali hasil kesimpulan diskusi kelompok dan menegaskan materi perbaikan pembelajaran. Peneliti memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan tes formatif.
Peneliti bersama siswa mengoreksi hasil tes formatif, peneliti memberikan penilaian dan tindak lanjut serta mengumpulkan hasil tes formatif siswa.
Kegiatan akhir diakhiri dengan memberi motivasi kepada siswa untuk tetap bersemangat dalam pembelajaran-pembelajaran mendatang, peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran dengan salam.
c.    Pengamatan
Untuk mencatat minat siswa terhadap pembelajaran siswa serta tindakan peneliti dalam melaksanakan tindakan perbaikan, selama proses pembelajaran berlangsung diadakan observasi yang dilakukan oleh observer.
Hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer menunjukkan adanya peningkatan partisipasi aktif siswa, jika dibanding dengan siklus I.
Peneliti membimbing siswa maupun kelompok yang kurang aktif, mengingatkan siswa yang bermain sendiri atau yang hanya diam saja. Hasil siklus II terjadi peningkatan dari 5 siswa (38%) yang tuntas menjadi 9 siswa (62%), sisanya 4 siswa (31%) belum tuntas.
d.    Refleksi
Refleksi dilakukan berdasarkan nilai hasil tes formatif serta hasil observasi, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam merancang  tindakan perbaikan pembelajaran siklus III.
Hasil pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus II adalah 9 siswa (69%) tuntas, sedangkan 4 siswa (31%) belum tuntas. Dengan demikian pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus ini belum berhasil, maka harus dilakukan perbaikan pembelajaran siklus III. Peneliti akan merubah kelompok dari 3 kelompok menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 3 anak, diharapkan dengan kelompok kecil, siswa akan lebih aktif mengikuti pembelajaran yang akhirnya hasil belajar akan meningkat.

3.    Siklus III
Siklus III akan dilaksanakan dalam dua pertemuan yaitu pertemuan I tanggal bulan tahun dan pertemuan II tanggal bulan tahun. Hasil belajar harus memenuhi dua kriteria, yaitu mencapai tahap relatif mantap, dan mencapai tahap pengertian (insight). Hal tersebut  sesuai dengan teori belajar menurut psykhologi Gestalt yang menjelaskan bahwa,  “Belajar bukan hanya sekedar merupakan proses asosiasi antara stimulus-respon yang makin lama makin kuat karena adanya latihan-latihan atau ulangan-ulangan; belajar terjadi jika ada pengertian (insight)” (Purwanto, 1997: 101).
Tindakan perbaikan siklus I dan II telah meningkatkan prestasi dan minat belajar siswa, akan tetapi belum mencapai tingkat seperti yang telah dipersyaratkan dalam indikator keberhasilan pembelajaran, peneliti tetap berharap pada tindakan perbaikan pembelajaran siklus III, yang diharapkan dapat berhasil mengantarkan siswa pada tahap pengertian (insight).
Tahap-tahap pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran siklus III adalah sebagai berikut:
a.    Perencanaan
Siklus III dilaksanakan dalam dua kali pertemuan, yaitu pertemuan I dilaksanakan pada hari Senin tanggal bulan tahun dan pertemuan II tanggal bulan tahun. Pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran siklus III pertemuan II menggunakan metode SAS. Pada siklus III ini peneliti menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam kegiatan perbaikan pembelajaran, seperti rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPPP), lembar kerja siswa, lembar pengamatan siswa, lembar kerja siswa, buku-buku sumber, dan alat peraga. Fokus perbaikan pembelajaran siklus III pada peningkatan keterampilan siswa dalam membaca dan menulis.
Metode yang digunakan dalam perbaikan pembelajaran siklus III ini masih tetap metode SAS. Tidak seperti pada siklus II, pada siklus III ini siswa dibagi menjadi 4 kelompok kecil yang tiap kelompok terdiri dari 3 siswa, diharapkan dengan jumlah anggota kelompok yang sedikit keaktifan siswa meningkat dan pada akhirnya hasil belajar meningkat.
b.    Tindakan
Pertemuan I
1)    Kegiatan Awal
Pelaksanaan tindakan perbaikan siklus III pertemuan I pada tanggal bulan tahun. Kegiatan dilaksanakan selama 10 menit, yang dilakukan adalah memperbaiki kekurangan siklus II.
Seperti halnya telah dilakukan dalam dua kegiatan awal saat melakukan tindakan siklus pertama dan kedua, dalam kegiatan awal siklus ketiga inipun peneliti menciptakan suasana kelas yang kondusif bagi proses pembelajaran.
Peneliti mengucap salam, berdo’a, mengabsen, melakukan acuan dan apersepsi.
Peneliti menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu melalui pengamatan gambar siswa dapat membaca lancar beberapa kalimat sederhana dengan intonasi yang benar, menuliskan kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan benar.
2)    Kegiatan Inti
Kegiatan inti pada pertemuan I ini dilaksanakan selama 40 menit. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa menirukan peneliti membaca teks berikut ini:

Anak Berbudi

Pukul enam dimas mandi
Dimas kemudian makan pagi
Dimas siap berangka sekolah
Diams pamit pada ayah dan ibu
Di sekolah Dimas pada bu guru
Dimas belajar dengan tekun
Di rumah Dimas patuh pada ayah dan ibu
Peneliti dan siswa bertanya jawab tenang isi teks yang telah dibaca bersama, peneliti menjelaskan kalimat teks tersebut menggunakan metode SAS.

                anak berbudi               
anak        berbudi
a    nak        ber    bu    di
    a    n    a    k        b    e    r    b    u    d    i
a    nak        ber    bu    di
anak        berbudi
anak berbudi

Peneliti menjelaskan cara membaca dengan memberikan contoh menggunakan metode SAS, berupa pemenggalan kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf. Dengan memahami huruf secara optimal siswa dapat merangkaikan huruf tersebut menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan pada akhirnya akan memudahkan siswa dalam meningkatkan kelancaran membaca dan menulis.
Pada perbaikan siklus III, peneliti membagi siswa menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 3 siswa. Peneliti membagikan lembar kerja siswa berupa gambar kegiatan siswa, siswa ditugaskan untuk mengerjakan lembar kerja secara kelompok.
Selama siswa mengerjakan lembar kerja, teman sejawat melakukan pengamatan terhadap keaktifan siswa, proses pembelajaran, dan kegiatan peneliti untuk mengetahui penyebab permasalahan rendahnya hasil belajar siswa.
Setelah selesai mengerjakan lembar kerja, kelompok melaporkan hasil kerja di depan kelas bergantian, kelompok yang lain memberikan tanggapan. Siswa mengumpulkan lembar kerja untuk diberi nilai.
Siswa dengan bimbingan peneliti menyimpulkan pelajaran, siswa merangkum dan mencatat di buku tulis masing-masing.
3)    Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir pertemuan II siklus III dilaksanakan selama 20 menit. Peneliti membacakan kembali hasil kesimpulan diskusi kelompok dan menegaskan materi perbaikan pembelajaran. Peneliti memberikan tugas rumah kepada siswa untuk dikerjakan secara individu.
Kegiatan akhir diakhiri dengan memberi motivasi kepada siswa untuk tetap bersemangat dalam pembelajaran-pembelajaran mendatang, peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran dengan salam.

Pertemuan II
1)    Kegiatan Awal
Pelaksanaan tindakan perbaikan siklus III pertemuan II pada tanggal bulan tahun. Kegiatan dilaksanakan selama 10 menit, yang dilakukan adalah memperbaiki kekurangan pertemuan I.
Seperti halnya telah dilakukan dalam pertemuan I, dalam kegiatan awal pertemuan II inipun peneliti menciptakan suasana kelas yang kondusif bagi proses pembelajaran.
Peneliti mengucap salam, berdo’a, mengabsen, melakukan acuan dan apersepsi. Peneliti menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu melalui pengamatan gambar siswa dapat membaca lancar beberapa kalimat sederhana dengan intonasi yang benar, menuliskan kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan benar.
2)    Kegiatan Inti
Kegiatan inti pada pertemuan I ini dilaksanakan selama 40 menit. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa menirukan peneliti membaca teks berikut ini:

Anak Berbudi

Pukul enam dimas mandi
Dimas kemudian makan pagi
Dimas siap berangka sekolah
Diams pamit pada ayah dan ibu
Di sekolah Dimas pada bu guru
Dimas belajar dengan tekun
Di rumah Dimas patuh pada ayah dan ibu

Peneliti dan siswa bertanya jawab tenang isi teks yang telah dibaca bersama, peneliti menjelaskan kalimat teks tersebut menggunakan metode SAS.

                dimas belajar               
dimas        belajar
di    mas        be    la    jar
d    i    m    a    s        b    e    l    a    j    a    r
di    mas        be    la    jar
dimas        belajar
dimas belajar

Peneliti menjelaskan cara membaca dengan memberikan contoh menggunakan metode SAS, berupa pemenggalan kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf. Dengan memahami huruf secara optimal siswa dapat merangkaikan huruf tersebut menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan pada akhirnya akan memudahkan siswa dalam meningkatkan kelancaran membaca dan menulis.
Pada perbaikan siklus III pertemuan II, peneliti membagi siswa menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 3 siswa. Peneliti membagikan lembar kerja siswa berupa gambar kegiatan siswa, siswa ditugaskan untuk mengerjakan lembar kerja secara kelompok.
Selama siswa mengerjakan lembar kerja, teman sejawat melakukan pengamatan terhadap keaktifan siswa, proses pembelajaran, dan kegiatan peneliti untuk mengetahui penyebab permasalahan rendahnya hasil belajar siswa.
Pada perbaikan siklus III ini, peneliti menginginkan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa sebagaimana terjadi pada siklus II, tidak lagi terulang.
Peneliti terus mendampingi secara bergiliran kelompok-kelompok yang sedang menyelesaikan tugas. Peneliti berharap agar perbaikan pembelajaran pada siklus III ini bisa mencapai tingkat keberhasilan yang signifikan.
Selama siswa mengerjakan lembar kerja, peneliti bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain untuk melakukan bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan. Peneliti juga membagi buku sumber belajar kepada setiap siswa.
Setelah selesai mengerjakan lembar kerja, kelompok melaporkan hasil kerja di depan kelas bergantian, kelompok yang lain memberikan tanggapan. Siswa mengumpulkan lembar kerja untuk diberi nilai.
Siswa dengan bimbingan peneliti menyimpulkan pelajaran, siswa merangkum dan mencatat di buku tulis masing-masing.
 
3)    Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir pertemuan II siklus III dilaksanakan selama 20 menit. Peneliti membacakan kembali hasil kesimpulan diskusi kelompok dan menegaskan materi perbaikan pembelajaran. Peneliti memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan tes formatif.
Peneliti bersama siswa mengoreksi hasil tes formatif, peneliti memberikan penilaian dan tindak lanjut serta mengumpulkan hasil tes formatif siswa.
Kegiatan akhir diakhiri dengan memberi motivasi kepada siswa untuk tetap bersemangat dalam pembelajaran-pembelajaran mendatang, tindakan perbaikan siklus ketiga diakhiri dengan memberi motivasi agar siswa semakin giat belajar, peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran dengan salam.
c.    Pengamatan
Selama tindakan perbaikan pembelajaran siklus ketiga berlangsung, diadakan observasi yang bertujuan untuk mencatat minat siswa serta aktivitas guru (peneliti) yang berkaitan dengan pembelajaran.
Hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer pada setiap siklus ternyata selalu mengalami peningkatan ketuntasan belajar. Demikian halnya, dari siklus II ke siklus III, juga mengalami peningkatan dari 9 siswa menjadi 13 siswa yang tuntas. Ini berarti dari siklus II ke siklus III mengalami peningkatan sebesar 31%.
d.    Refleksi
Hasil diskusi antara peneliti dan observer diperoleh data observasi sebagai berikut:
1)    Pembelajaran berlangsung dengan sangat kondusif dan interaktif. Siswa tampak lebih senang belajar. Hal tersebut tampak dari hasil angket, yaitu 13 siswa (100%) menjawab “Ya”.
2)    Berdasarkan hasil tes formatif, jumlah siswa yang tuntas sebanyak 13 anak 100%.
3)    Hasil pengamatan observer tentang motivasi siswa menunjukkan peningkatan menjadi 100%.
Hasil tindakan perbaikan pembelajaran siklus III menunjukkan prosentase ketuntasan belajar yang memuaskan, yaitu 100%, untuk itu pelaksanaan tindakan perbaikan dihentikan pada siklus III.

B.    Hasil Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan bentuk Classroom Action Research atau Penelitian Tindakan Kelas dengan strategi siklus. Penelitian dilaksanakan langsung di dalam kelas, yaitu pada saat proses perbaikan pembelajaran.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas I semester 2 yang dilaksanakan dalam tiga siklus menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa.
    Hasil penelitian dapat ditunjukkan dengan data hasil tes formatif dan hasil perbaikan pembelajaran yang optimal dari siswa kelas I SD.
1.    Siklus I
a.    Perencanaan
Hasil yang diperoleh dari perencanaan adalah membuat Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran (RPPP) beserta skenario tindakannya, mempersiapkan seperangkat instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data, mempersiapkan lembar data pendukung pembelajaran berupa lembar kerja siswa (LKS), lembar evaluasi (tes formatif), dan lembar analisis.
b.    Tindakan
Data yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan penelitian berupa rekapitulasi nilai tes formatif pembelajaran sebagai berikut:

Tabel 4.1 Nilai Tes Formatif Siklus I

Dari tabel di atas dapat diterangkan bahwa pada tes awal nilai rata-rata 47 setelah dilakukan perbaikan mengalami kenaikan menjadi 56. Jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar pada tes awal 3 anak (23%) pada siklus I menjadi 5 anak (38%). Terjadi kenaikan sebesar 15%.
Gambar 4.1 Grafik Ketuntasan Belajar Siklus I (dalam persen)
c.    Pengamatan
Pada tahap pengamatan, diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.2    Peningkatan Motivasi Siswa Siklus I

Dari tabel tersebut diperoleh keterangan bahwa pada siklus, siswa yang menunjukkan peningkatan motivasi dalam belajar sebanyak 6 siswa atau 46%. Sedangkan yang tidak ada peningkatan 7 siswa atau 54%. Dari studi awal ke siklus I, keaktifan belajar siswa naik 46%.
Gambar 4.2 Grafik Peningkatan Motivasi Siswa Siklus I
Penggunaan metode SAS mempermudah siswa dalam membaca dan menulis. Pernyataan siswa melalui angket pada siklus I adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3  Hasil Angket Siswa Siklus I

Dari tabel di atas diperoleh keterangan bahwa pada studi awal, belum dilakukan pengamatan (0). Pada siklus I, siswa yang benar-benar telah menunjukkan kemudahan belajar sebanyak 7 siswa (54%). Siswa yang menyatakan tidak ada pengaruhnya 6 anak (46%).

d.    Refleksi
Dari 13 siswa yang berhasil diminta komentarnya, 10 anak menyatakan sangat membantu, 3 anak menyatakan tidak memilih, untuk itu peneliti pertemuan siklus berikutnya diperjelas kembali tentang cara-cara penggunaan metode SAS secara tepat.
Dari 13 siswa, terjadi peningkatan motivasi dalam belajar 6 siswa (46%). Berdasarkan analisis data nilai tes formatif, 5 siswa (39%) dari 13 siswa telah tuntas. Kesimpulan sementara dari hasil tindakan yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan.

2.    Siklus II
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II merupakan penyempurnaan perbaikan siklus I.
Alternatif pemecahan masalah dilakukan dengan mengoptimalkan media, seperti menambah kartu huruf, kartu kata, dan gambar-gambar yang dipergunakan dalam perbaikan pembelajaran, sehingga pembelajaran aktif semakin terasa lebih baik. Data hasil pelaksanaan, angket, pengamatan, dan refleksi, menunjukkan adanya peningkatan.
a.    Perencanaan
Membuat Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran (RPPP) beserta skenario tindakannya.
Seperangkat instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data.
Lembar data pendukung oembelajaran berupa lembar evaluasi dan analisis.
b.    Tindakan
Pada tahap pelaksanaan perbaikan pembelajaran, data diperoleh berupa rekapitulasi nilai tes formatif pembelajaran sebagai berikut:

Tabel 4.4   Nilai Tes Formatif Siklus II

dan seterusnya

3.    Siklus III
Tindakan siklus III sama berupa perbaikan terhadap masalah yang muncul pada siklus II, yaitu pemberian penjelasan tentang cara membaca dan menulis serta memberi tugas pada siswa.
Siswa yang masih mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis diberikan penjelasan lagi sampai siswa paham. Penggunaan kartu kata dan gambar-gambar lebih diperbanyak dalam siklus ini. Siswa membaca kalimat sesuai dengan metode SAS. Siswa juga diberikan kesempatan bertanya dan kegiatan akhir adalah evaluasi.
Tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus III diharapkan dapat memperoleh peningkatan yang sangat berarti.Hal ini diilustrasikan dari data hasil perencanaan, pelaksanaan, angket, pengamatan, dan refleksi.

a.    Perencanaan
Membuat Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran (RPPP) beserta skenario tindakannya.
Mempersiapkan seperangkat instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data.
Mempersiapkan lembar data pendukung pembelajaran berupa lembar evaluasi.
Mempersiapkan lembar analisis.

b.    Tindakan
Pada tahap pelaksanaan perbaikan pembelajaran, data diperoleh berupa rekapitulasi nilai tes formatif pembelajaran, dan grafik laporan perkembangan perbaikan pembalajaran Bahasa Indonesia siklus ke III. Adapun penyajian lebih rincinya sebagai berikut:

Tabel 4.7  Nilai Tes Formatif Siklus III

C.    Pembahasan
Setelah diadakan pelaksanaan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) selama tiga siklus maka dapat diperoleh data yang sangat menggembirakan, baik ketuntasan belajar siswa maupun keaktifan belajar siswa.
Dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran penelitian tindakan kelas (PTK) selama 3 siklus, diketahui bahwa kemampuan siswa kelas I Sekolah Dasar dalam peningkatan kelancaran membaca dan menulis dengan menggunakan metode SAS mengalami peningkatan yang sangat baik.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I diperoleh hasil tingkat keberhasilan siswa sebesar 39%, pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II diperoleh hasil tingkat keberhasilan siswa sebesar 69 %, dan pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus III diperoleh hasil tingkat keberhasilan siswa sebesar 100%.
Data tersebut di atas dapat dilihat melalui rekapitulasi niali tes formatif, grafik ketuntasan, rekapitulasi peningkatan motivasi siswa, grafik pengembangan motivasi siswa, rekapitulasi hasil angket siswa, dan grafik hasil angket siswa dari siklus I sampai dengan siklus III sebagai berikut:
Tabel 4.10  Rekapitulasi Nilai Tes Formatif dari Siklus I samapai dengan Siklus III.

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada siklus II nilai rata-rata 74, setelah dilakukan perbaikan mengalami kenaikan menjadi 92. Dari 13 anak, sebanyak 11 anak mengalami kenaikan nilai prestasi belajarnya (85%). Jumlah siswa yang telah tuntas belajar pada siklus II adalah 9 anak (69 %), pada siklus III naik menjadi 13 anak (100%).
Gambar 4.10  Grafik Ketuntasan Belajar Siklus I-III (dalam persen)

Pada tahap pengamatan, diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.11 Rekapitulasi Peningkatan Motivasi Siswa Siklus 1-III

Dari tabel di atas diperoleh keterangan pada siklus I, II, dan III siswa yang menunjukkan peningkatan motivasi dalam belajar sebanyak 6 siswa (46%), 9 siswa (69%), dan 100 siswa (100%) dari 13 siswa. Dari studi awal ke siklus III, keaktifan belajar siswa naik 100%.
Gambar 4.11 Grafik Perkembangan Motivasi Siswa Siklus I-III

Penggunaan metode SAS membantu mempermudah siswa dalam membaca dan menulis. Pernyataan siswa melalui angket pada siklus III adalah sebagai berikut:

Tabel 4.12 Rekapitulasi Hasil Angket Siswa Siklus I-III

    Dari tabel di atas diperoleh keterangan bahwa pada siklus I, II, dan III siswa yang benar-benar telah menunjukkan kemudahan belajar sebanyak 7 siswa (54%), 10 siswa (77%), dan 13 siswa (100%) dari 13 siswa. Dari studi awal ke siklus III, keaktifan belajar siswa naik 100%.
Gambar 4.12 Grafik Perkembangan Angket Siswa Siklus I-III

Dari 13 siswa yang berhasil diminta komentarnya, seluruhnya menyatakan bahwa penggunaan metode SAS sangat membantu mempermudah belajar membaca dan menulis, untuk itu penelitian dihentikan pada siklus III. Prosentase peningkatan motivasi belajar siswa pada siklus III telah mencapai 100%. Berdasarkan analisis data nilai tes formatif, seluruh siswa (100%) telah mencapai ketuntasan belajar.
Dari hasil tindakan siklus I sampai dengan siklus III selalu mengalami peningkatan.
Pada tindakan I, siswa mengerjakan soal evaluasi dengan nilai rata-rata kelasnya 56. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas I SD Negeri Tambaharjo masih kurang lancar dalam membaca dan menulis khususnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
Pada tindakan II, siswa dilibatkan dalam membuat kalimat dan menuliskannya di papan tulis dan menggunakan media berupa kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat. Hasilnya cukup memuaskan karena nilai rata-rata kelasnya mencapai 71.
Pada tindakan III, siswa juga dilibatkan dalam membuat kalimat dan menuliskannya di papan tulis, penggunaan kartu kata, kartu kalimat dan gambar lebih diperbanyak. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang berarti dengan nilai rata-rata kelas yaitu  92.
Dalam kegiatan belajar mengajar siswa lebih aktif dan lebih tertarik untuk melakukan aktivitas yang telah direncanakan. Dengan bantuan media, siswa tidak merasa bosan, siswa juga berani bertanya bila mengalami kesulitan.

Tuesday, September 24, 2013

Contoh Proposal PTK Bahasa Indonesia SD Kelas 5 Metode Role Playing

Berikut ini Contoh Proposal PTK Bahasa Indonesia SD Kelas 5 Metode Role Playing dengan judul Upaya Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia tentang Kemampuan Berbicara Melalui Penggunaan Metode Role Playing Bagi Siswa Kelas V SD. Silahkan artikel ini dapat digunakan oleh para pembaca yang membutuhkan referensi pembuatan proposal PTK maupun laporan PTK sebagai tugas perkuliahan atau tugas akhir atau juga untuk pengajuan kenaikan pangkat dan juga ujian PLPG bagi para pegawai negeri sipil (PNS) untuk mendapatkan tunjangan Profesi Guru, semoga bermanfaat.

Thursday, September 12, 2013

Contoh Proposal PTK Bahasa Indonesia Kelas V SD



PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(PTK)

  1. JUDUL
Upaya Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia tentang Kemampuan Berbicara Melalui Penggunaan Metode Role Playing Bagi Siswa Kelas V SD.

  1. MATA PELAJARAN DAN BIDANG KAJIAN
Bahasa Indonesia, Pembelajaran

  1. PENDAHULUAN
Kemampuan berbicara merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang harus dimiliki seseorang. Kemampuan berbicara secara formal memerlukan latihan dan bimbingan yang serius. Di kalangan pelajar, kemampuan berbicara masih rendah, hal ini terlihat dari cara mereka mengemukakan pendapat, bertanya, diskusi, ataupun berpidato, bahkan lebih parahnya lagi, masih ada yang tidak berani berbicara sama sekali.
Data yang diperoleh dari siswa kelas V SD tentang kemampuan berbicara mereka setelah diadakan tes awal adalah hanya 25% dari jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar. Hal tersebut membuktikan bahwa kemampuan berbicara kelas V SD sangat rendah. Dengan demikian perlu dilakukan suatu tindakan untuk meningkatkan hasil belajar tersebut.
Dari hasil identifikasi ditemukan beberapa faktor penyebab rendahnya kemampuan berbicara siswa, yaitu:
a.       Belum menggunakan metode pembelajaran secara maksimal.
b.      Pembelajaran mementingkan hasil sebagai produk dari pada proses.
c.       Siswa merasa bosan dan jenuh.
d.      Kurangnya penggunaan metode yang bervariasi.
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, demokratis, kolaboratif, dan konstruktif, yaitu Role Playing. Setelah menggunakan model tersebut diharapkan kemampuan berbicara siswa meningkat.

Friday, March 30, 2012

PTK BAHASA INDONESIA KELAS I BAB III

Berikut ini contoh PTK BAHASA INDONESIA KELAS I BAB III dengan judul Penggunaan metode SAS untuk peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa Kelas I

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Setting Penelitian
Penelitian ini dimulai dari bulan Januari 2011 dan selesai penyusunan laporannya bulan Juni 2011. Adapun kegiatan pengumpulan data dan penelitian setiap siklusnya adalah sebagai berikut:
1.      Siklus pertama Senin, 7 dan 14 Maret 2011
2.      Siklus kedua Senin 21 dan 28 Maret 2011
3.      Siklus ketiga Senin 4 dan 11 April 2011
            Tabel 3.1
Jadwal kegiatan Penelitian Mapel Bahasa Indonesia
No
Jenis Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Jan
Feb
Mar
April
Mei
Juni
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Persiapan























2
Penyusunan Proposal























3
Penyusunan Instrumen























4
Pengamatan Awal























5
Pelaksanaan Siklus I






















6
Pelaksanaan Siklus II






















7
Pelaksanaan Siklus III






















8
Analisis hasil per siklus




















9
Penyusunan Laporan




















































B.     Subjek Penelitian
1.         Lokasi
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar …………., UPT Dinas DIKPORA Unit Kecamatan ………. Kabupaten ……….. yang berlokasi di RT 01 RW 01, Desa ……….
Jarak dari Kecamatan ………… ± 4 km, dari kota ………… ± 23 km. Secara geografis Sekolah Dasar Negeri …………. terletak di antara pemukiman penduduk, di pinggir jalan desa.
Penduduk Desa 90% bermata pencaharian sebagai petani. Jumlah siswa Sekolah Dasar ……………. pada Tahun Pelajaran ... sebanyak 124 siswa. Denah SD …………….. dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1 Denah Lokasi SD
2.      Mata Pelajaran
Mata pelajaran yang menjadi bahan penelitian adalah Bahasa Indonesia, yaitu mengenai kemampuan membaca dan menulis materi semester II dengan spesifikasi sebagai berikut:
a.       Standar Kompetensi
·         Membaca
Memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi anak.
·         Menulis
Menulis permulaan dengan huruf tegak bersambung melalui kegiatan dikte dan menyalin.
b.      Kompetensi Dasar
·         Membaca
Membaca lancar beberapa kalimat sederhana yang terdiri atas 3-5 kata dengan intonasi yang tepat
·         Menulis
Menulis kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan huruf tegak bersambung
c.       Indikator
·         Membaca lancar teks non sastra dengan lafal dan intonasi yang tepat
·         Menulis kalimat secara benar dan tepat mengikuti apa yang didiktekan guru
3.      Kelas
Subjek penelitian adalah tempat peneliti memperoleh keterangan atau data penelitian. Subjek penelitian ini adalah semua siswa kelas I Sekolah Dasar …………….. yang berjumlah 13 anak. Kelas tersebut diambil sebagai subjek penelitian karena rata-rata hasil belajar mereka belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Siswa pada umumnya sulit memahami materi, kurang bersungguh-sungguh, sehingga berimbas pada hasil belajar yang rendah.
4.      Karakteristik siswa
Salah satu karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan di dalam kelas, sehingga fokus penelitian adalah kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi. Karena siswa terlibat dalam penelitian, karakteristik siswa harus dipahami agar PTK berjalan lancar PTK dilaksanakan di kelas I SD …………….. dengan jumlah siswa 13, terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. Usia mereka rata-rata 7 tahun. Latar belakang kehidupan mereka mayoritas keluarga petani yaitu, 10 siswa dan 3 siswa dari keluarga pedagang. Keadaan fisik siswa umumnya baik. Jarak dari rumah ke sekolah kurang dari 1 km. Mayoritas siswa ke sekolah bersepeda, dan ada 2 siswa yang berjalan kaki. Prestasi akademik siswa pada semester satu tahun pelajaran ... cukup baik.

C.    Data dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa keterlibatan siswa dalam kelompok selama proses pembelajaran, sedangkan data kuantitatif adalah data yang berupa nilai pada studi awal, siklus I, II, dan III.
Sumber data penelitian ini berasal dari narasumber dan dokumen sekolah. Narasumber penelitian ini adalah siswa dan guru. Dokumen yang menjadi sumber data berupa kurikulum KTSP, Silabus, buku-buku pelajaran, dan administrasi kelas.

D.    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi, dan tes.
1.      Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah cara mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, skrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2003: 188).
Teknik dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang nama identitas siswa, hasil belajar Bahasa Indonesia pada semester II Tahun Pelajaran ... serta gambaran pelaksanaan tindakan pada setiap siklus.
2.      Observasi
Observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran. Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi sistematis, yaitu menggunakan instrumen pengamatan.
Instrumen pengamatan berupa daftar pengamatan yang berisi item-item kejadian atau tindakan yang dilakukan dalam penelitian. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh data tentang pelaksanaan perbaikan pembelajaran.
3.      Tes
Teknik tes dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar bahasa Indonesia, setelah dilaksanakan tindakan. Instrumen tes disusun dan diujicobakan pada siswa diluar objek penelitian, dan dianalisis untuk mengetahui validitas, derajat kesukaran, daya beda, dan reliabilitas, sehingga instrumen soal yang digunakan untuk evaluasi diakhir siklus adalah hanya butir soal yang baik yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan.
Soal tes diujicobakan di luar sampel penelitian dengan maksud untuk tetap menjaga agar hasil ujicoba benar-benar valid, sehingga ketika digunakan pada saat tes setelah pelaksanaan tindakan dihasilkan data yang benar-benar sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran, karena apabila ujicoba dilaksanakan pada subjek penelilian, dikhawatirkan mempengaruhi hasil penelitian.
Dalam pengumpulan data tersebut, peneliti dibantu oleh teman sejawat dengan identitas dan tugas sebagai berikut:
Nama            :    ……………..
NIP               :    ……………
Jabatan         :    Guru Kelas …
Unit Kerja    :    SD ……………
Tugas            :    -    Mengobservasi pelaksanaan perbaikan pembelajaran mulai siklus I sampai dengan selesai.
-       Memberikan masukan tentang kekuatan dan kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran.
-       Ikut serta merencanakan perbaikan pembelajaran.

E.     Validitas Data
Data yang sudah terkumpul merupakan modal awal yang sangat berharga dalam penelitian ini, dari data yang terkumpul akan dilakukan analisis yang selanjutnya dipakai sebagai bahan masukan untuk penarikan kesimpulan. Melihat begitu besarnya posisi data, maka keabsahan data yang terkumpul menjadi sangat vital.
Keabsahan data itu dikenal sebagai validitas data, sebagaimana dijelaskan Alwasilah (2008:170) bahwa tantangan bagi segala jenis penelitian pada akhirnya adalah terwujudnya produksi ilmu pengetahuan yang valid, sahih, benar, dan beretika.
1.    Triangulasi
Triangulasi adalah pendekatan analisa data yang memadukan berbagai data sehingga merupakan kesatuan yang selaras dari berbagai sumber.
Menurut Institute Global Tech yang tersedia secara online pada http://www.igh.org/triangulation/ diunduh pada tanggal bulan tahun, Pukul 00.52 WIB, menjelaskan bahwa Triangulasi mencari dengan cepat pengujian data yang sudah ada dalam memperkuat tafsir dan meningkatkan kebijakan serta program yang berbasis pada bukti yang telah tersedia.
Dengan cara menguji informasi dengan mengumpulkan data melalui metode berbeda, oleh kelompok berbeda, dan dalam populasi berbeda, penemuan mungkin memperlihatkan bukti penetapan lintas data, mengurangi dampaknya dari penyimpangan potensial yang bisa terjadi dalam satu penelitian tunggal.
Penelitian ini menggunakan triangulasi sebagai Teknik mengecek keabsahan data, di mana dalam pengertiannya triangulasi adalah Teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang laindalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2004:330).
Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda (Nasution, 2003:115) yaitu wawancara, observasi dan dokumen. Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.
Data yang diperoleh dari hasil tes awal adalah bahwa siswa kelas I SD … yang berjumlah 13 anak, masih banyak ditemukan siswa-siswa yang masih mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis, yaitu 38% (5 siswa) yang bisa membaca, 46% (6 siswa) yang bisa menulis, dan 31 % (4 siswa) yang telah bisa membaca dan menulis.
Data tersebut di atas jika dibandingkan dengan data hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer tidak jauh berbeda, yaitu 5 siswa (38%) yang bisa membaca, 5 siswa (38%) yang bisa menulis, dan 4 siswa (31%) yang bisa membaca dan menulis.
Data tentang keaktifan siswa yang diperoleh dari lembar pengamatan kerja kelompok oleh guru jika dibandingkan dengan hasil pengamatan observer menunjukkan prosentase yang sama, yaitu 40%. Data yang terkumpul dari guru dan observer akan dilakukan analisis yang selanjutnya dipakai sebagai bahan masukan untuk penarikan kesimpulan.
2.    Review Informasi
Data atau Informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan observer berupa informasi tentang kemampuan membaca, menulis, dan keaktifan siswa. Informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap kemampuan membaca dan menulis adalah bahwa terdapat 5 siswa (38%) yang bisa membaca, 5 siswa (38%) yang bisa menulis, dan 4 siswa (31%) yang bisa membaca dan menulis.
Informasi tentang keaktifan siswa yang diperoleh dari hasil pengamatan observer yaitu 38% (5 siswa) yang aktif Mengikuti proses pembelajaran.
3.    Kunci
Kata kunci: metode SAS kemampuan membaca, kemampuan menulis, keaktifan siswa.

F.     Teknik Analisis Data
Data yang dianalisis meliputi data kuantitatif (dengan menampilkan angka-angka sebagai ukuran prestasi), dan data kualitatif (dengan menampilkan angka sebagai perbandingan). Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif yang bertujuan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran. Tahapan dalam tindakan menganalisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
1.         Reduksi Data
Reduksi data dilakukan dalam rangka pemilihan dan penyederhanaan data. Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini adalah seleksi data dan pembuangan data yang tidak relevan. Data-data yang relevan dengan penelitian akan diorganisasikan sehingga terbentuk sekumpulan data yang dapat memberi informasi faktual.
2.         Penyajian data
Penyajian data dilakukan dalam bentuk sekumpulan informasi, baik berupa tabel, bagan, maupun deskriptif naratif, sehingga data yang tersaji relatif jelas dan informatif. Tindakan lanjutan, penyajian data digunakan dalam kerangka menarik kesimpulan dari akhir sebuah tindakan.
3.         Penarikan kesimpulan
Kegiatan penarikan kesimpulan merupakan kegiatan tahap akhir dari proses analisis data. Penarikan kesimpulan disusun dengan mempertimbangkan secara evaluatif berdasarkan kegiatan-kegiatan yang ditempuh dalam dua tahap sebelumnya.

G.    Indikator Kinerja
Indikator kinerja yang digunakan sebagai acuan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah:
1.         Indikator peningkatan keaktifan membaca dan menulis.
No
Pertanyaan
Jawaban
Ya
Tidak
1



2



3


4
Apakah penggunaan metode SAS dapat mempermudah siswa dalam membaca dan menulis?

Apakah penggunaan metode SAS dapat meningkatkan siswa dalam menjawab pertanyaan guru?

Apakah penggunaan metode SAS dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam bertanya?

Apakah penggunaan metode SAS dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas?



Jika 75% siswa menjawab ya, berarti penggunaan metode SAS telam berhasil.

2.         Indikator peningkatan hasil belajar siswa.
Peningkatan hasil belajar siswa adalah peningkatan hasil belajar secara individual maupun klasikal.
Peningkatan hasil belajar secara individual diukur dengan hasil nilai yang diperoleh, yaitu lebih besar atau sama dengan KKM yang telah ditentukan, yaitu 60.
Peningkatan hasil belajar secara klasikal diukur dengan tingkat ketuntasan belajar siswa, yaitu 75%.

3.         Indikator peningkatan motivasi belajar siswa.
Peningkatan motivasi belajar siswa setelah menggunakan metode SAS diukur dengan jumlah siswa yang termotivasi mencapai 75%.

H.    Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan melalui 3 prosedur, yaitu prosedur penelitian tindakan kelas, prosedur umum pembelajaran, dan prosedur perbaikan pembelajaran.
Pembedaan dan pencantuman prosedur yang cukup rinci ini ditempuh agar arah kegiatan yang dilakukan benar-benar terencana, terorganisir, dan berlangsung secara sistematis.

1.         Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Tindakan perbaikan pembelajaran dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur, yang tiap daur terdiri dari 4 (empat) tahap, yakni merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observing) dan refleksi (reflecting) (Ristasa, 2006:45). Hasil refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan, peneliti gunakan untuk acuan dalam merancang tindakan perbaikan siklus berikutnya.
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas menurut IGAK Wardhani, dkk. (2007:2.3), bahwa penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari empat tahap, yaitu:
a.       Merencanakan  (planning),
b.      Melakukan tindakan (acting),
c.       Mengamati (observing),
d.      Melakukan refleksi (reflecting)
Dari beberapa pendapat di atas maka peneliti diwajibkan untuk memenuhi beberapa tahapan yang berlaku, sehingga peneliti tidak semaunya sendiri untuk membuat perencanaan, pelaksanaan, pengamatan sendiri.
Hasil refleksi yang dilakukan peneliti dijadikan pedoman melakukan revisi rencana perbaikan selanjutnya, jika tindakan yang dilakukan belum berhasil. Model tahapan penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.3 Tahap-tahap Penelitian Tindakan Kelas
Adapun kegiatan peneliti mulai dari ide awal melaksanakan tindakan perbaikan sampai dengan menarik kesimpulan akhir, dapat digambarkan dalam bentuk skema sebagai berikut:
IDE AWAL
Studi Pendahuluan
1.      Wawancara dengan siswa.
2.      Tes diasnotik.
3.      Analisis dokumen
Berhasil
Persiapan Penelitian
1.      Penyamaan konsep, metode, contoh, dan latihan antara peneliti dan pengamat.
2.      Penyusunan lembar pengamatan.
3.      Penyusunan format wawancara.
4.      Penyusunan format tes
Tindakan Siklus I
1.      Perencanaan perbaikan.
2.      Pelaksanaan perbaikan.
3.      Observasi.
4.      Diskusi dengan teman sejawat.
Simpulan
Belum
Revisi
Tindakan Siklus II
6.      Perencanaan perbaikan.
7.      Pelaksanaan perbaikan.
8.      Observasi.
9.      Diskusi dengan teman sejawat.
10.  Refleksi siklus II
Berhasil
Simpulan
Tindakan Siklus ke n
1.      Perencanaan perbaikan.
2.      Pelaksanaan perbaikan.
3.      Observasi.
4.      Diskusi dengan teman sejawat.
5.      Refleksi siklus ke n

Gambar 3.4  Skema Daur Penelitian Tindakan Kelas
2.         Prosedur Umum Pembelajaran
Menurut Gagne dan Briggs (dalam Situmorang dalam Ristana, 2006: 47) prosedur umum pembelajaran ada 9 (sembilan) urutan kegiatan, yaitu:
a.         Memberikan motivasi atau menarik perhatian.
b.        Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta didik.
c.         Mengingatkan kompetensi prasyarat.
d.        Memberikan stimulus (masalah, konsep, topik).
e.         Memberikan petunjuk cara belajar.
f.         Menimbulkan penampilan peserta didik.
g.        Memberi umpan balik.
h.        Menilai penampilan.
i.          Menyimpulkan.
3.         Prosedur Perbaikan Pembelajaran
a.         Prosedur Umum Perbaikan Pembelajaran
Yang dimaksud prosedur umum perbaikan pembelajaran yaitu tahap-tahap kegiatan untuk menyelesaikan aktivitas pembelajaran secara umum. Adapun prosedur umum perbaikan pembelajaran yang peneliti tempuh adalah sebagai berikut:
1)        Mengidentifikasi masalah, menganalisis dan merumuskan masalah, serta merumuskan hipotesis tindakan.
2)        Menentukan cara pemecahan masalah dan tindakan perbaikan.
3)        Merancang skenario tindakan perbaikan yang dikemas dalam Rencana Perbaikan Pelaksanaan Pembelajaran (RPPP).
4)        Mendiskusikan dan menentukan aspek-aspek yang akan diamati selama tindakan perbaikan pembelajaran berlangsung dengan teman sejawat.
5)        Melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran sesuai dengan skenario.
6)        Mendiskusikan hasil pengamatan dengan teman sejawat dan menganalisis nilai tes hasil pembelajaran.
7)        Melakukan refleksi terhadap tindakan perbaikan yang telah dilaksanakan.
8)        Konsultasi dengan supervisor.
9)        Merancang tindak lanjut.
b.        Prosedur Khusus  Perbaikan Pembelajaran
1)        Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti menyusun rencana tindakan yang didasarkan pada studi pendahuluan yang telah dilakukan. Tahap perencanaan ini berisi tindakan apa yang akan dilakukan, apa saja mater dan media yang digunakan, siap yang melaksanakan, kapan waktu pelaksanaannya dan bagaimana melaksanakannya.
2)        Tahap Pelaksanaan Tindakan
Dalam tahap pelaksanaan tindakan peneliti menggunakan tahap-tahap sebagai berikut:
a)         Siklus/Tindakan I
Pemberian tes awal, berupa tugas untuk menuliskan kalimat yang didiktekan guru, kemudian siswa membaca sendiri-sendiri kalimat yang sudah ditulis, tanpa menggunakan media.
b)        Siklus/Tindakan II
(1)     Perbaikan tindakan yang dilaksanakan berdasarkan masalah yang muncul pada siklus/tindakan I.
(2)     Guru menyiapkan media berupa kartu kalimat, kartu kata dan gambar untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis dan membaca serta member kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal yang belum jelas.
c)         Siklus/Tindakan III
(1)     Perbaikan tindakan yang dilaksanakan berdasarkan masalah yang muncul pada siklus/tindakan II.
(2)     Guru menyiapkan media berupa kartu kalimat, kartu kata dan gambar untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis dan membaca serta member kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal yang belum jelas.
3)        Tahap Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan terhadap isi tindakan, pelaksanaan tindakan, maupun akibat yang timbul dari tindakan tersebut.
Observer maupun pelaksana tindakan melaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan sebagai bahan untuk mengadakan refleksi untuk menyusun rencana tindakan berikutnya.
4)        Tahap Evaluasi-Refleksi
Peneliti mengadakan analisis, pemaknaan dan penyimpulan terhadap tindakan yang telah dilaksanakan pada tahap evaluasi-refleksi. Peneliti, guru kelas dan teman sejawat berdiskusi untuk memaknai data yang diperoleh dalam observasi terhadap tindakan yang telah dilakukan. Hasil refleksi kemudian kegunakan sebagai dasar pemikiran untuk menyusun rencana tindakan yang akan datang.
Tahap refleksi juga merupakan evaluasi tentang tindakan yang telah dilakukan untuk mengetahui keberhasilan atau pengaruh tindakan. pada tahap ini peneliti dapat membandingkan kondisi awal sebelum diadakan tindakan dan kondisi sesudah diberikan tindakan.